Pekanbaru, (RGT.com) – Adalah tidak dapat dipungkiri bahwa pembatasan telah menyebabkan berkurangnya kesempatan beraktivitas. Artinya hanya sedikit orang untuk berkumpul dan berkegiatan, karenanya adalah benar bahwa “persepsi sosial berpengaruh terhadap tumbuhnya perilaku individu tertentu”. Berbicara tentang berbagai pembatasan di masa Covid-19 merupakan sebuah pembelajaran yang jelas perihal pariwisata itu bersumber sebagai kegiatan sosial. Istilah staynomic pertama kali diangkat dari bagian judul dalam jurnal saya yang dimuat dalam jurnal ADI International Conference SeriesThe 3rd International Conference on Global Innovation and Trends in Economy 2021. Dengan judul Staynomic: The Near One, The Easy One, The Small One dan sebelumnya pada Podcast Apekesah di bulan Juli yang mengupas tentang bagaimana kehidupan perilaku orang berwisata di masa pandemi covid 19.
Di rumah saja, bekerja dari rumah, tidak boleh makan di tempat, hanya boleh berkapasitas 25 persen dan hanya beroperasi hingga pukul 20.00 WIB hingga tutup operasi. Ternyata telah mendorong terjadinya perubahan perilaku, mengapa, karena bagaimanapun kita selaku insan akan terus berupaya memenuhi kebutuhannya sehingga dengan berbagai aturan undang-undang yang diterapkan, meski dengan melakukan berbagai perubahan pada perilaku dan harapannya. Yah, tidak boleh belanja karena tutup ke online, tidak boleh makan di tempat ya cari yang bisa dibawa pulang, tidak boleh berjalan jauh, yah cari yang dekat dekat saja, dan seterusnya.

Karenanya pariwisata sebagai perisitiwa sosial menurut saya akan merasakan dampak yang besar atau luar biasa. Manusia melakukan adaptasi baru, terhadap situasi yang dialaminya karena keadaan ini sesuai dengan adanya teori psikologi yang menyebutkan bahwa secara kejiwaan adanya kecenderungan orang untuk selalu mencari hal-hal yang mudah, demikian halnya masa pandemi ini. Maka pada kegiatan orang berwisata juga akan mengalami perubahan mencari hal-hal yang mudah sebagai sebuah upaya pemenuhan kebutuhan. Kemudian konsep dasar terjadinya perubahan ini adalah dikarenakan perubahan nilai sebagai pembenaran yang mempengaruhi konsumsi, mengapa, sebab nilai kesehatan jauh lebih penting di atas nilai kesenangan. Itulah yang merupakan pertimbangan baru orang untuk melakukan kegiatan berwisata.
Kerangka berpikir yang sederhana ini jika ditarik dalam garis lurus maka akan berpengaruh juga pada pola produksi, dan karena pola perilaku sebagai timbal balik dari proses konsumsi tersebut yang lebih memiliki pertimbangan pragmatis saat konsumsi. Dengan orang yang cenderung mencari yang mudah, yang dekat dan yang simple, yang kecil serta hemat, maka Saya menamakan sebagai the near one, the easy one, the samll one, yang menjelaskan akan dasar istilah dari staynomic. Karenanya, realitas konsep sosial entrephreneurship yang harus ditangkap adalah dampak dari mindset berkonsumsi yang harus diadaptasi dan mungkin juga akan menjadi ekosistem baru dengan entitas yang lebih beragam sehingga semakin membuka peluang usaha yang semakin banyak dan unik dengan produk baru yang lebih memberi banyak kehidupan yang lebih baik. Konsep ini secara tidak langsung telah terjadi di sekitar kita, yang dapat dengan mudah jika kita amati dengan bermunculannya tempat rekreasi baru di daerah, menjamurnya kafe-kafe, beraneka ragamnya kuliner yang kesemuanya menjadikan identitas atau keunikan sebagai daya tarik.
Sumber: www.riaupos.jawapos.com > Staynomic sebagai Peristiwa Sosial
Link:
https://riaupos.jawapos.com/pekanbaru/08/08/2022/279299/staynomic-sebagai-peristiwa-sosial.html
Terima kasih telah mengunjungi website kami.






