Tanda-tanda cara kerja dunia sudah berubah, dan cara orang hidup juga berubah, dunia membelah jalan, jalan baru? Karenanya saat ini banyak pelaku bisnis, termasuk di sektor pariwisata, yang merasa di persimpangan jalan, cemas, karena terjadinya perubahan besar orang dalam berbelanja yang awalnya hanya terjadi di dunia manufaktur, namun gemanya terasa sampai ke sektor jasa. Dan masihkah kita selalu menikmati bulan madu.
Persoalannya adalah apakah pelanggan dan penikmat dapat menerima penyesuaian yang kita lakukan agar bisa hidup dan menghidupi. Penulis mencoba mencari berbagai reverensi yang bukan hanya kata pengamat tapi juga dari berbagai strategi CEO. Kesimpulannya, semua belum pernah masuk ke suasana seperti saat ini. Keadaan yang berbeda dengan yang sebelumnya ini menjadikan setiap gerak perubahan menimbulkan kecemasan, dengan pertanyaan yang sering muncul “harus mulai dari mana” agar “bisnis berada pada jalur yang dibutuhkan”.
Barangkali setiap pelaku bisnis pasti sudah tergambarkan tentang apa yang ditransaksikan oleh produk kita, alasan konsumen membeli atau menikmati, apa karena harga, model, rasa, ukuran, kebanggaan atau karena kegunaannya. Dorongan inilah yang menguatkan keyakinan kita ketika memulai bisnis atau mengembangkannya. Inilah inti dari produk yang penulis istilahkan sebagai DNA bisnis yang mampu melahirkan revolution of hopes.
Dan di tengah bonus demografi dengan memaraknya e-comers, viral comers dan like comers, barangkali tidak ada salahnya kita merenung ala Paul & Elder tentang perlunya kembali mengidentifikasi, mencocokkan, menganalisa dan menyimpulkan tentang nilai yang menjadi dasar dilakukan produksi yang mejadi unggulan dan membedakan.
Memang betul jumlah GenZ menggeser jumlah; milenial dan baby boomers sehingga mempengaruhi pengambilan keputusan tapi benarkah hanya itu. M, dan harus diakui bahwa berbagai taktik jangka pendek tidak dapat menopang strategi jangka panjang, kecuali memiliki value dan identitas dasar atau filosofi yang mengimajiner agar proses penikmatan tiada habisnya.
Karenanya tak dipungkiri bahwa saat ini realitas hidup telah berubah dan cara memenuhi kebutuhan juga berubah, tekanan yang kuat terhadap kehidupan ekonomi telah menjadikan rasional sebagai perhitungan dasar keputusan sehari hari. Dalam logika konsumen, yang menuntut pemenuhan secara praktis, telah mendorong terjadinya pergeseran arus produksi.
Dalam logika produsen, telah memaksa operasional produk mengutamakan sangat efisien atau mati. Dalam logika medsos, yang mengukur kuantiti perosonaliti sebagai markable telah mengharuskan prosuk memiliki “sweet emotion” dengan mengedepankan yang simplicity and power full, ketiganya jelas menuntut kekuatan karakter yang membangun empati sebagai upaya komunikasi produk yang diminati.
Dan pada masyarakat perkotaan yang terkotak kotak atau terfragmentasi, perkara hiburan misalnya bukan hanya perkara hari sabtu minggu tetapi masalah ingin hidup santai– meriah setiap saat dan perkara makan bukan tentang yang murah tapi ingin nyaman dan enak yang menyenangkan.
Oleh karenanya menaklukan pola yang demikian ini menurut Stepen Covey mengharuskan selaku pebisnis atau pelaku usaha memiliki pengetahuan luas pada pemahaman atau keunggulan konsep akan nilai dan visi seperti saat membangun bisnis tentu, tetapi yang tidak kalah jauh lebih penting menurut penulis adalah keharusan ditopangnya konsep oleh kejelian melihat subtansi pola bisnis dan karakter masyarakat sebagai produsen sekaligus pasar dengan disertai pula oleh penguasaan teknis yang mumpuni serta memiliki daya tahan, yang artinya kekuatan modal bukan segalanya tetapi penting, karena banyak pemodal besar yang terjebak dan hancur.
Harus diakui membangun interaksi yang bermakna yang mampu menciptakan ikatan emosional jangka panjang bukanlah hal yang mudah tetapi juga memuat pesan yang kuat dan bukan datang begitu saja. Memang harus diakui ancaman frugal living ada di depan mata, meleveranasir usaha dengan berbagai bentuk, cara dan ide yang bukan hanya pada persoalan pemasaran tetapi juga pada penikmatan perlu kita kaji dengan lebih dalam, karenanya kita harus mampu mengontrol narasi nilai usaha jangan sampai kemudian menjadikan keputusan itu sebagai sebuah resiko. Amin.(nto/c)
Oleh: Riyono Gede Trisoko (Pemerhati Pariwisata)





