Catatan Pinggir Kepariwisataan 5/II : Perilaku Wisatawan Berubah

PEKANBARU,RGT.COM- Benar apa yang  ditulis oleh Reinald Kosali dalam bukunya Great of Shifting yang mengungkapkan  akan terjadi pergeseran besar di dalam konsep proses metodelogi   pada perilaku, tentunya tidak terkecuali perilaku orang berpariwisata termasuk pebisnis dan penikmat pariwisata. Harus diakui bahwa keberlanjutan sebuah bisnis kepariwisataan akan bergantung kepada bagaimana citranya yang terbentuk dalam pikiran masyarakatnya sebagai konsumen. Apa yang harus dilakukan, riset, mungkin cukup lebih banyak luangkan waktu.

Karenanya agar usaha kita  tetap dapat menyambung hidup tak elok diabaikan adanya  gagasan yang mengungkapkan bahwa selalu ada celah value space antara barang ke barang, barang keorang, barang kewaktu hingga misalnya orang ke orang, dan itu bisa penulis  dikatakan sebagai peluang atau kesempatan, keberagaman hal ini telah terlihat dari beraneka ragam usaha kuliner, hotel beraneka tipe, jasa agent yang semakin sensitif, destinasi untuk berfoto  hingga bermunculannya jasa konsultan perjalanan dan masih banyak lagi, tentu dengan seleranya. Referensi  dunia gelap pasca covid sudah bukan isu, siapa saja berkiat guna tetap eksis dengan tanpa abai  kewajibannya.

Mal yang dulunya hanya berhadapan dengan online sekarang bertambah dengan small shop  atau showrooming, kuliner yang semakin unik beragam nama bentuk yang  cenderung lebih murah kesemuanya ternyata tidak mengendorkan semangat hidup dengan pariwisata, dan inilah saatnya satu hal yang harus dipahami bersama bagi pelaku usaha pariwisata,  adalah harus selalu berusaha memahami dengan benar apa yang menjadi kebutuhan, apa yang menjadi kegalauan bagi penikmat pariwisata. Literasi dengan  banyak analisa telah menerangkan tentang adanya segmen baru yaitu kaum muda, wanita dan netizen penting untuk dikelola dengan hati hati, karena segmen itu menggambarkan muatan adanya  pragmatisme  ditengah demografi “keunikan”.

Dengan demikian services  melalui utilitianisme-nya telah menggeser konsep produk  dari sebagai serba pokok kini menjadi consumtion sebagai serba agar mudah dinikmati, dari sekedar mempertahankan tempat-tempat-tempat  menjadi convienance yang  serba memudahkan diperoleh menjadi keanekaragaman  yang tidak bisa dielakan. Jalan tol, gawai dan pergeseran pendapatan telah menjadikan banyak produk  kepariwisataan mudah usang dan mudah ditiru, dan   keduanya adalah bagian dari beberapa sifat pariwisata yang harus disikapi dengan berbagai cara agar   kita mereposisikannya, mengapa, agar mampu memberi nilai baru meski dalam bentuk yang tidak jauh berbeda, hal ini sekaligus menjadikan tidak hanya mudah usang tetapi juga akan memberikan positioning baru yang tak ada habisnya sehinngga mengundang penikmat atau wisatawan itu datang.

Sebagai refleksi karenanya tidak salah kita perlu simak pendapat Nielsen 2021 yang  mengulas  tentang kuatnya kepercayaan  konsumen kepada daya tarik nilai autentik dari  produk dan servis, tentunya  melalui  banyaknya  memberi manfaat kepada dunia  bukan hanya mengejar materi, menguat  sebagai kekuatan baru.

Karenanya dalam proses ini penting dipahami agar usaha itu tetap memiliki keberlanjutan, tentunya disamping doa dan harapan yang dibangun, penting juga melakukan apa yang dikatakan sebagai upaya memadukan minat pasar dan idealis produk, mengapa, satu hal yang kita semua upayakan adalah dorongan  mengikuti selera yang cepat, sementara merubah produk harus diakui itu sulit, maka ada baiknya yang kita upayakan adalah “mengomunikasikannya” agar tetap relevan, memunuhi hasrat yang mudah, yang murah, yang gaya.

Di tengah banjir informasi dan gaya, adalah penting mengetahui proses yang memberikan sesuatu pengetahuan kepada kita selaku pebisnis  bahwa membangun  usaha terlebih jasa itu harus juga memikirkan product management process  yang bukan hanya kepada bagaimana hubungan kita dengan konsumen selaku penikmat tetapi juga harus memikirkan bagaimana suasana emosi, suasana spikologi, suasana sosial dari lingkungan penikmat kita hingga  lingkungan mitra kita atau juga  mungkin  lingkungan perilaku yang  bukan hanya  pada konsumen kita. (nto/c)