Catatan Pinggir Kepariwisataan 1/II : Perlukah Strategi Baru

PEKANBARU,(RGT.COM)-Diakhir-akhir ini sering kita mendengar tentang bagaimana kegiatan bisnis yang totality bergantung kepada teknologi,  dan hal  tersebut termasuk di bidang pariwisata. Salah satu perubahan yang harus kita sikapi bersama  selaku pebisnis pariwisata adalah telah terjadinya perubahan perilaku pada konsumen, pada konsep berwisata, konsep menikmati dan konsep cara menikmatinya, mengapa, karena  segala bentuk usaha kepariwisataan  akan penuh harap berujung kepada bukan hanya penguasaan pemahaman   konten tetapi juga  konteks , tentu dengan closing yang bagus. Karenanya  tugas kitalah selaku pebisnis bidang pariwisata menciptakan nilai produk yang selalu dapat dmanfaatkan.

Ada tulisan disebuah majalah  ilmiah populer yang mengatakan demikian ”hadir secara online itu penting, tapi itu bukan segala galanya untuk berbisnis”, jelas ini mengingatkan kita kepada marak bergugurannya  bisnis star up dimasa sedang pertumbuhan. Dan di catatan pinggir dari awal maupun pada jurnal dan buku saya sudah mengulas akan perlunya mengambil jarak dengan perilaku populer yang diciptakan teknolog. Mengapa, sederhananya dapat dikatakan bahwa,  teknologi tidak dapat merubah rasa tetapi lebih mempengaruhi berpikir tentang rasa.

Tanpa disadari atau tidak pendemi covid 19 telah merubah  perilaku masyarakat, baik pada pelaku bisnis maupun pada pasar,  mengapa bisa,   dikarenakan kecemasan akan  rasa takut dan keterbatasan telah menumbuhkan rasa nrimo yang kreatif dengan mengolah emosi dan mood,  dimana masyarakat konsumen mencari  yang murah, dekat  dan meriah, sedangkan masyarakat produsen membuat yang praktis dan terjangkau.

Mudah ditiru, mudah usang menjadikan usaha jasa  kepariwisataan menjamur bak tumbuh dimusim hujan, situasi yang demikian in mengharuskan setiap bentuk bisnis harus memiliki bahan baku yang unik, yang dengannya menjadi kekuatan. Proses yang demikian penting sekali dikuasai dan dikesplorasi guna mengembangkan pengaruh pasar.

Terlebih pasca pendemi ini, dimana perlunya ditemukan sebuah kata yang mampu menghubungkan  antara euforia pasar dalam kapasitas operasional  dan tata pelayanan agar tetap terjaga  semangat berusaha  dan bukan hanya untuk kepuasan yang tinggi  tetapi juga terjaga keberlangganannya.

Oleh karenanya diperlukan kejelian yang bukan saja  untuk bertahan  tetapi juga  mampu memperluas pasar. Pada tulisan ini  dapat  penulis kelompokkan dalam beberapa langkah. Pertama,  bahwa pasca pendemi covid secara sosial psikologi terjadi dialog yang kuat antara  mengatasi kesibukan –  mengatur pendapatan dan  menangani kecemasan , yang akhirnya membentuk  moderatisasi pilihan. Dan pada sisi ini bermunculanlah berbagai destinasi baru maupun   terbarukan hingga  kepada beragam jenis wisata khususnya kuliner. Kejelian mengelola.

Kedua, Kekuatan bahan baku. Bagaimanapun itu me too maupun foMo dipilih adalah karena dinilai penting untuk membangun produksi yang berbasis kepada dukungan alam terdekat. Mengapa karena deliveri sumber bahan baku diyakini berpengaruh kepada daya dukung eksplorasi dan kemanfaatan dalam oleh produksi  jasa kepariwisataan. Karena dalam contoh yang sederhana, sebuah jasa kuliner menjadi mudah dikelola  dengan segala situasi jika proses mobilisasi bahan itu mudah dan murah.

Ketiga,  Kita harus meyakini  bahwa  fenomena tentang instrumen personal  telah membentuk perilaku unik dalam pasar, sekalipun pada pasar yang sama, karena perilaku akan  membentuk atau menghasilkan ragam kebutuhan, dan ini telah menjadikan  sebuah issue sebagai  magnet dalam bisnis kepariwisataan. Maka dari itu berbagai pemikiran tentang perlunya agility menjadi topik yang menarik dan penting pada berbagai lini bisnis.

Bisnis kepariwisataaan yang mudah ditiru,  mudah usang dan sangat bervariasi  tentunya memerlukan kepekaan yang tinggi agar,  tiap pengembangan usaha bukan menjadi bakar bakar uang dan bukan pelampiasan hasrat atau emosional kapitalisasi semata tetapi  lebih sebagai pewarisan nilai berkehidupan.

Perkembangan destinasi sudah barang tentu akan berkaitan erat dengan karakter SDM yang ada,  mengapa, karena karakter SDM pada akhirnya akan membentuk karakter produksi, yang antitesanya  akan membentuk karakter kebutuhan yang ujung ujungnya berpotensi menjadi daya tarik. Dalam konsep seperti ini kita selaku pebisnis harus banyak melakukan upaya-upaya di dalam menangkap fenomena yang muncul. Fenomena yang bagaimana, didalam pariwisata ada beberapa bagian yang harus kita lihat dengan jeli sebagai cara penikmatan.

Orang cenderung melakukan kegiatan pariwisata saat ini ada tiga bagian. Pertama adalah leisure time atau waktu luang, ini terjadi dikarenakan saat ini berwisata sudah menjadi kebutuhan dan  setiap waktu luang harus diissi sebagai kemanfaatan diri. Karenanya pariwisata harus bisa memahami karakter kebutuhan masyarakat,  tentunya ini dihubungkan dengan karakter produk  yang kita miliki.

Kedua, sisi emosional. Orang melakukan kegiatan pariwisata itu ingin memuaskan kebutuhan-kebutuhannya, dan secara psikologi semakin lebih unik, oleh karenanya munculnya tekanan  seperti tidak ingin tertinggal, ingin selalu diupdete, ingin selalu dikenal, itu adalah sebuah sisi potensi sendiri dan pengembangannya harus kita pahami. Mengapa, memiliki hubungan psikologi antara apa yang menjadi market kita dan apa yang menjadi kemampuan kita mendistribusikan produk adalah bagian dari rezeki Yang Maha Kuasa.

Kemudian yang ketiga, yang harus dihatikan adalah bagaimana perubahan lingkungan yang mempengaruhi persepsi orang terhadap bisnis karakter produk kita. Didalam menyikapi tiga hal tersebut diatas maka pilihan dalam menggunakan teknologi sebagai strategi komunikasi perlu dilakukan pengkajian ulang. Ini mengapa, ketergantungan online itu tidak bisa dipungkiri tetapi pembinaan kepada kualitas produksi itu bukan hanya kepada cara kita membangun produk tetapi juga komunikasinya. Oleh karena itu aktivitas yang menopang produk destinasi yang dimiliki harus selalu dikemas dalam sebuah pesan  daya tarik.

Setiap produk harus menanamkan nilai pilipropesiesen sebagai sebuah kesplow disamping semangat untuk memenuhi kebutuhan masa. Nah semangat inilah yang selalu diekplor sebagai konsep budaya, daya tarik sebagai keunggulan operasional. Di dalam tataran seperti ini kita harus menyiapkan strategi baru atau kita menyiapkan taktik baru dalam rangka  kemampuan mempertahankan konsumen dan tetap mampu mengikuti selera pasar.

sebagaimana yang telah disampaikan, bahwa ini terjadi didalam populasi yang sama, didalam konsumen yang sama tetapi kita harus mampu menanamkan nilai yang berbeda dengan karakter yang berbeda. Melalui oleh konsep ini  barangkali kita perlu ber agility guna mempertahankan ataupun meningkatkan  cashflow . Mengapa, karena mungkin saja pada produk yang ditawarkan sama akan mapu mendapatkan pasar yang berbeda karena komunikasinya nilai yang berbeda. (nto/c)